Konsumsi Suplemen Bisa Berujung Pada Katarak

Konsumsi Suplemen Bisa Berujung Pada Katarak

Di Indonesia, penyebab kebutaan nomor satu adalah katarak, disusul oleh kelainan refraksi dan glaukoma. Hal ini diungkapkan oleh dr Rita Polana, SpM dalam acara diskusi kesehatan mata yang digelar oleh RS Pondok Indah Group di Jakarta, Jumat (6/10/2017).

Untuk DKI Jakarta saja, statistik menunjukkan bahwa 50 persen dari masyarakat telah terkena katarak pada usia 50 tahun-an, ujar Rita.

Katarak, menurut dr Iwan Soebijantoro, SpM pada 9 September 2017, sebetulnya tidak dapat dicegah atau diperlambat karena merupakan proses degeneratif.

Akan tetapi, Rita melihat bahwa kebanyakan kasus katarak dini di DKI Jakarta terjadi karena komplikasi obat, seperti suplemen dan obat-obat tulang, yang mengandung steroid.

“Ada beberapa suplemen yang mengandung steroid. Itu bisa bikin katarak dan tekanan bola mata meningkat yang berujung pada glaukoma,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia pun menyarankan untuk tidak mengonsumsi suplemen lebih dari tiga bulan. “Tiga bulan itu sudah berdampak, tapi metabolisme orang itu beda-beda ya,” katanya.

Daripada mengonsumsi suplemen, Rita lebih merekomendasikan mengonsumsi vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh secara langsung dari makanan.

“Kalau pasien sudah berusia 40 tahun atau lebih, kurangi karbohidrat dan perbanyak buah. Sebab, di usia tersebut, hormon pertumbuhan sudah menurun. Yang mati selnya 60 persen, yang diganti cuma 40 persen. Sayur dan buah itu mengandung vitamin yang dibutuhkan untuk mengganti sel,” katanya.

Selain itu, Rita juga berpesan untuk menggunakan topi dan kacamata hitam yang dapat menangkal sinar ultraviolet ketika berada di luar ruangan di atas pukul 10.00.

Jika Anda sudah menginjak usia 50 tahun, mulailah untuk memeriksakan mata ke dokter spesialis mata, terutama ketika gejala-gejala katarak mulai terlihat. Gejala-gejala tersebut, termasuk pandangan menjadi buram atau sinar terlihat pecah ketika malam sehingga sulit fokus.

Letusan Gunung Agung Bisa Hasilkan Tanah Tersubur di Dunia

Letusan Gunung Agung Bisa Hasilkan Tanah Tersubur di Dunia

Gunung Agung di Bali saat ini berada pada status IV Awas, satu tingkat sebelum meletus (erupsi), akibatnya lebih dari 100.000 orang dievakuasi dari zona bahaya. Jika erupsi terjadi, salah satu dari kami (Dian) akan segera berangkat ke Bali untuk mengumpulkan abu dan tanah yang terdampak.

Letusan ini dikhawatirkan dapat menjadi bencana yang besar akibat lava, abu dan awan panas yang bersuhu tinggi dapat mencapai 1.250?. Lava akan mengalir menyusuri lereng gunung, sedangkan abu terlempar ke atmosfer bahkan stratosfir. Awan panas dan abu vulkanis membawa risiko yang serius terhadap manusia dan penghidupannya. Semburan abu saat erupsi gunung api tak hanya memengaruhi penerbangan dan pariwisata, tapi juga berdampak pada kehidupan dan aktivitas pertanian bagi para petani. Awan panas menghanguskan tanaman, abu vulkanis menimbuni lahan pertanian dan merusak tanaman. Tetapi dalam jangka panjang, abu akan menciptakan tanah yang paling subur di dunia.

Meskipun luas tanah vulkanis hanya sekitar 1% saja dari luas daratan bumi, ternyata tanah vulkanis dapat menghidupi 10% dari populasi dunia. Tidak mengherankan kawasan vulkanis termasuk area dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Cincin api

Indonesia terletak di gugusan Cincin Api Pasifik, serangkaian gunung berapi yang membentang dari Sumatra melalui Jawa dan Bali, Maluku hingga Timor, dan merupakan lokasi tektonik paling berbahaya di dunia.

Sepanjang sejarah, letusan gunung berapi di Indonesia telah memengaruhi iklim dunia, terutama Gunung Toba yang meletus begitu dahsyat sekitar 74.000 tahun yang lalu, yang mengakibatkan musim dingin selama enam tahun. Gunung Tambora dikenal karena letusan hebatnya pada 1815 dan menyebabkan satu tahun tanpa musim panas di Eropa, dan letusan Gunung Krakatau pada 1883 juga memengaruhi dunia.

Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 melemparkan sekitar 160 kilometer kubik material vulkanis ke atmosfer. Bencana ini memengaruhi populasi di pulau-pulau sekitarnya, termasuk Bali. Pertanian hancur oleh tumpukan abu dan kurangnya sinar matahari. Diperkirakan penderitaan ini berlangsung selama 10-15 tahun sebelum abu berubah menjadi tanah subur.

Letusan Gunung Agung pada 1963-64 mengeluarkan 0,95 kilometer kubik materi vulkanis dan lava. Sekitar 1.580 orang dilaporkan tewas karena aliran lahar yang cepat disertai dengan gas beracun.

Namun, jika letusan yang sekuat itu terjadi besok, korban jiwa tidak akan separah itu karena saat ini kita memiliki sistem peringatan dini.

Implikasi untuk negara tetangga

Hampir setiap tahun dan silih berganti terjadi letusan dari berbagai gunung api di Indonesia (ada 66 gunung yang sedang dipantau, dan 50-60 dianggap “aktif”), dikhawatirkan akan datang letusan yang besar.

Letusan besar akan sangat destruktif bagi bangsa Indonesia. Letusan besar juga akan memengaruhi iklim dunia, dan memberi tantangan bagi negara-negara tetangga untuk mengatasi gangguan lalu lintas udara serta pada saat yang sama membantu jutaan orang Indonesia untuk bertahan dan pulih dari bencana alam ini.

Letusan dengan kategori sedang pun, diperkirakan akan terjadi pada setiap dekade, akan memaksa ratusan ribu orang pindah. Untuk mengatasi ini perlu persiapan mitigasi yang sistematis.

Gunung api dan kepadatan penduduk

Di sepanjang dekade lalu, di berbagai lokasi di Indonesia, banyak gunung meletus, seperti Merapi (2010) di Jawa Tengah, Sinabung (dimulai tahun 2014 sampai saat ini) di Sumatra Utara, dan Kelud (2014) di Jawa Timur.

Meski gunung api menyimpan bahaya, wilayah dengan aktivitas vulkanis yang tinggi dikenal sebagai wilayah pertanian yang paling subur di dunia. Tanah vulkanis mengandung nutrisi seperti potasium dan fosfor yang berasal dari abu letusan gunung api yang baik untuk tanaman.

Ilwuwan Belanda E.C.J. Mohr pada 1938 mengamati bahwa wilayah dekat Gunung Merapi memiliki kepadatan penduduk yang tinggi di wilayah-wilayah yang tanahnya berasal dari abu vulkanik.

Adanya tanah jenis ini menjadi alasan mengapa Pulau Jawa mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi, sekitar 1.100 jiwa per kilometer persegi. Beberapa tahun setelah Gunung Galunggung meletus pada April 1982, tingkat produktivitas pertanian di wilayah sekitar Tasikmalaya meningkat.

Abu vulkanis, lumbung pupuk

Dian Fiantis dari Universitas Andalas adalah pemburu abu vulkanis. Ia melihat letusan gunung berapi sebagai kesempatan untuk mempelajari bagaimana tanah terbentuk, sebuah proses yang membutuhkan ribuan bahkan jutaan tahun. Ia telah mengumpulkan abu langsung setelah gunung-gunung meletus di Sumatra dan Jawa.

Tephra (istilah ilmiah untuk abu vulkanis) mengandung mineral primer yang memiliki banyak unsur hara. Dengan berjalannya waktu, terjadi proses pelapukan kimia dan biologi, abu akan mengeluarkan unsur hara dan area permukaan butiran abu akan membesar, dan mampu menampung lebih banyak nutrien dan air.

Selain itu, tephra memiliki kemampuan untuk menyerap karbon dari atmosfer dalam jumlah besar dan menyimpannya di tanah.

Pada Januari 28, 2014, Gunung Sinabung meletus dan menyemburkan aliran piroklastik dan “hujan lumpur”. Abu menutup hampir seluruh Desa Sigarang-garang, yang terletak di timur laut kaki gunung. Abunya mengandung unsur hara terutama kalsium, magnesium, potasium, dan fosfat dalam jumlah besar.

Diperkirakan wilayah tersebut menerima 250 juta ton abu yang mengandung unsur hara–setara dengan 10 juta ton pupuk.

Saat kami mengunjungi desa tersebut pada Januari 2017, kami melihat lumut sudah tumbuh di atas abu, bahkan rumput juga sudah tumbuh. Wilayah ini menampung zat organik yang cukup substansial, yang mengandung hingga 4% karbon organik. Artinya mereka bisa menyerap karbon dalam jumlah banyak dari atmosfer melalui tanaman.

Mohr mengajukan teori bahwa kepadatan populasi Indonesia yang begitu tinggi disebabkan keberadaan gunung api yang aktif.

Namun letusan gunung api yang secara rutin terjadi seantero negeri juga membawa kehancuran bagi orang-orang yang tinggal di sekitar gunung api.

Fenomena alam ini memperbarui tanah, tapi butuh waktu yang lama sampai abu dapat melapuk. Kita perlu menemukan solusi yang dapat mempercepat waktu pembentukan tanah. Meyakinkan petani lokal bahwa dibalik bahaya letusan gunung tersimpan hikmah tersembunyi, ternyata fenomena alam menjaga tanah Indonesia tetap subur adalah sebuah tantangan.

Kami juga berharap pemerintah Australia mengembangkan kapasitas untuk membuat model dan menyiapkan respons yang tepat untuk bencana yang besar, yang mungkin terjadi dalam jangka waktu yang panjang.

Kerja sama antara militer dan badan penanggulangan bencana antara Indonesia, Papua New Guinea, dan Timor Timur harus dimulai sebelum bencana letusan Gunung Agung melanda, untuk mengembangkan rasa saling percaya, saluran komunikasi dan strategi.

Dokter di Puskesmas di Usul Bisa Tangani Penyakit Jiwa

Dokter di Puskesmas di Usul Bisa Tangani Penyakit Jiwa

Tak seperti dokter yang menangani penyakit fisik, dokter penyakit jiwa masih terbilang sedikit di Indonesia. Jumlahnya kurang dari 1.500 orang.

Padahal, kesehatan jiwa tak bisa disepelekan. Penyakit jiwa akan saling terkait dan memengaruhi kesehatan fisik.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Pusat dr Eva Viora, SpKJ berkata bahwa pihaknya mengusulkan pembaharuan kurikulum pendidikan dokter.

Nantinya, para dokter yang bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas) akan dapat mendeteksi sekaligus menangani penyakit jiwa level rendah dan menengah, sedangkan penyakit level tinggi akan diserahkan kepada rumah sakit.

“Pendidikan psikiatri di dokter umum perlu ditingkatkan. Sekarang puskesmas bisa mendeteksi tapi tidak untuk menangani karena kompetensi pendidikannya hanya sebatas deteksi,” kata Eva di komplek Kementerian Kesehatan, Kamis (5/10/2017).

Usulan itu akan disampaikan kepada Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI). Jika disetujui, PB IDI bersama pihak Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi akan memperbaharui kurikulum pendidikan dokter.

Rencana itu disambut baik oleh Nuri Purwito Hadi, Anggota Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki). Menurut dia, kompetensi psikiatri tengah dibutuhkan oleh masyarakat.

“Kita tidak bicara siapa yang lebih kompeten, tapi lihat kebutuhan Indonesia. Dokter jiwa sedikit, dibawah 1.500 orang, jadi ya tidak mungkin bisa menjangkau seluruh Indonesia,” kata Nuri.

Untuk menejembatani kurangnya dokter jiwa, Nuri berkata bahwa sejak 2016 lalu, pihaknya telah membuat pelatihan dokter di puskesmas bersama Kementerian Kesehatan. Menurut dia, ribuan dokter telah mengikuti pelatihan diagnosis penyakit jiwa akibat pekerjaan.

Dia menambahkan, hingga kini, Indonesia belum memiliki data penyakit jiwa yang timbul dalam pekerjaan. Data itu dirasa penting mengingat industri yang tengah berjalan di Indonesia.

“Harusnya dengan industri sekian besar, masa kita tidak tahu ada orang yang sakit akibat kerja berapa banyak. Sampai sekarang kan kita tidak punya (data),” kata Nuri.

Sementara itu, Direktur Pecegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH mengatakan, keberpihakan pemerintah terkait penangananan kesehatan jiwa semakin membaik.

Hal ini ditunjukkan dengan alokasi dana yang terus bertambah. Hingga 2015, Fidiansjah berkata bahwa pemerintah telah mengucurkan dana sekitar Rp 10-15 miliar. Lalu, pada 2016 alokasi dananya naik hingga mencapai Rp 20 miliar.

“Jadi tren sudah menunjukkan perbaikan. Tahun ini sudah sekitar Rp 25 miliar. 2018 kami upayakan hingga Rp 40 miliar. Alokasinya proporsional sifatnya,” kata Fidiansjah.

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons